
Di tengah riuhnya media sosial yang sibuk memamerkan sensasi instan, masih ada anak muda yang memilih diam-diam menyalakan harapan lewat ilmu pengetahuan. Sosok itu adalah Apt. Jihan Yasida Az-Zahra, S.Farm, apoteker muda di RS PMI Sultra yang berhasil menorehkan IPK sempurna 4,00, angka yang bagi sebagian mahasiswa hanya menjadi bahan mimpi sebelum tidur.
Lahir di Lipu, 1 Agustus 2002, Jihan bukan datang dari cerita penuh kemewahan. Ia tumbuh dari keluarga pendidik sederhana. Ia adalah putri dari Muh. Yasmin, S.Pd dan Siti Sauda, S.Pd. Dari rumah yang sederhana, lahirlah satu prinsip yang kini mulai langka di generasi muda: pendidikan bukan alat pamer, tapi alat perjuangan.
Di saat banyak mahasiswa sibuk menghitung followers, Jihan sibuk menghitung dosis obat dengan ketelitian nyaris tanpa kompromi. Ketika sebagian anak muda berlomba terlihat “hebat” di internet, ia memilih menjadi benar-benar bermanfaat di dunia nyata.
IPK 4,00 bukan sekadar angka cantik yang dipajang di map wisuda. Angka itu adalah simbol dari disiplin yang brutal terhadap diri sendiri. Ia adalah kumpulan malam panjang, tugas tanpa tidur, praktik yang melelahkan, dan tekanan akademik yang tidak semua orang mampu bertahan di dalamnya.
Namun yang paling menarik dari sosok Jihan bukan hanya kecerdasannya.
Yang paling tajam justru pertanyaan yang diam-diam ia tamparkan kepada dunia pendidikan hari ini:
Mengapa mahasiswa yang serius belajar sering dianggap “kurang gaul”, sementara yang viral justru dielu-elukan?
Di tengah budaya instan yang semakin memiskinkan kualitas berpikir generasi muda, kemunculan sosok seperti Jihan terasa seperti alarm keras. Ia membuktikan bahwa prestasi tidak lahir dari keberuntungan, tetapi dari konsistensi yang sering kali membosankan dan tidak mendapat tepuk tangan.
Sebagai apoteker muda di RS PMI Sultra, Jihan juga menjadi wajah baru tenaga kesehatan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memahami bahwa dunia kesehatan bukan panggung pencitraan. Di balik jas putih seorang apoteker, ada tanggung jawab besar menyangkut nyawa manusia.
Dan di era ketika hoaks kesehatan menyebar lebih cepat daripada edukasi medis, kehadiran tenaga farmasi muda berkualitas seperti dirinya menjadi kebutuhan, bukan sekadar kebanggaan. Jihan sepenuhnya sadar bahwa keberadaannya di RS PMI Sultra adalah kesempatan besar baginya untuk bertumbuh. Menghargai senior, menghormati pimpinan, mengikuti aturan adalah kewajiban moral yang harus siap ia laksanakan.
Banyak orang mengira keberhasilan hanya milik mereka yang punya koneksi, privilege, atau jalan mulus. Tapi Jihan menghadirkan narasi berbeda: bahwa anak muda daerah pun bisa berdiri sejajar, bahkan melampaui batas, jika mau serius menghargai pendidikan.
Karena sejatinya, RS PMI SULTRA tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan anak muda yang mau tekun.
Dan mungkin, di tengah dunia yang makin bising oleh pencitraan, sosok seperti Jihan hadir untuk mengingatkan: bahwa ilmu yang benar tidak selalu paling ribut, tetapi dampaknya bisa paling besar.
_HUMAS_









