Kendari – Di balik hiruk pikuk tugas kepolisian yang penuh tekanan, ada kisah kecil yang mungkin tak banyak diketahui publik, tetapi mampu mengetuk perasaan siapa pun yang mendengarnya. Sebuah kisah tentang kesetiaan, kepedulian, dan arti kepemimpinan yang sesungguhnya.

Hari ini, di salah satu sudut ruangan, seorang pejabat tinggi kepolisian duduk tenang di kursi donor. Tidak ada sorotan kamera yang berlebihan, tidak ada pidato panjang. Hanya ada seorang pemimpin dengan wajah tenang menyumbangkan darahnya demi seorang anggota yang sedang membutuhkan transfusi darah jenis Trombosit.

Ia adalah Kapolres Kendari, Kombes Pol Edwin Louis Sengka.

Kabar bahwa salah satu anggotanya sedang dirawat dan membutuhkan darah sampai kepadanya. Dalam banyak situasi birokrasi, mungkin persoalan seperti ini bisa saja diserahkan kepada staf atau sekadar diselesaikan dengan instruksi. Namun yang terjadi hari ini berbeda.

Kapolres memilih mendonorkan darahnya sendiri.

Tanpa banyak protokol, tanpa jarak pangkat dan jabatan, ia menjalani prosedur pemeriksaan kesehatan lalu bersedia mendonorkan darahnya.

“Kalau anggota kita sedang berjuang melawan sakit, rasanya tidak pantas kalau kita hanya menunggu kabar dari jauh,” ujarnya dengan nada tenang.

Kalimat itu sederhana. Tetapi di balik kesederhanaannya, tersimpan makna yang dalam: kepemimpinan bukan hanya soal komando, tetapi juga keberanian untuk hadir ketika orang yang kita pimpin sedang berada dalam kesulitan.

Petugas Unit Donor Darah PMI Sultra mengaku suasana pagi ini terasa berbeda. Ada keheningan yang tidak biasa ketika darah mulai mengalir dari lengan Kapolres ke dalam kantong donor.

“Beliau sangat sederhana. Tidak banyak bicara, tidak ingin diperlakukan istimewa. Bahkan dengan pakaian sederhananya kami baru menyadari bahwa yang sedang donor adalah Kapolres,” ujar salah satu petugas Unit Donor Darah PMI SULTRA.

Pemandangan itu menyentuh hati banyak orang yang menyaksikannya. Seorang pemimpin yang sehari-hari memikul tanggung jawab menjaga keamanan kota, kini duduk diam, memberikan sesuatu yang paling mendasar dari tubuh manusia: darahnya sendiri.

Di tengah masyarakat yang seringkali menyaksikan jarak antara pimpinan dan bawahan, momen ini terasa seperti pengingat bahwa hubungan kemanusiaan tidak boleh kalah oleh pangkat dan struktur organisasi.

Kapolres Kendari sendiri menolak jika tindakannya dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Baginya, donor darah hanyalah langkah kecil yang bisa dilakukan siapa saja.

“Ini bukan soal jabatan. Ini soal kemanusiaan. Kalau kita bisa membantu, kenapa harus menunggu orang lain dulu?. Hari ini saya juga saya mengajak lima orang anggota kepolisian Non Muslim lainnya” katanya.

Hari ini, seorang pemimpin menunjukkan bahwa empati tidak harus disampaikan lewat pidato. Kadang ia cukup hadir lewat tindakan kecil yang nyata. Setetes demi setetes darah mengalir perlahan ke dalam kantong donor. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya beberapa ratus mililiter darah. Namun bagi seorang anggota yang sedang berjuang melawan sakit, itu bisa menjadi harapan yang tak ternilai.

Kisah ini mungkin tidak akan tercatat sebagai peristiwa besar dalam sejarah. Tetapi bagi mereka yang menyaksikannya, hari ini meninggalkan pelajaran penting tentang arti kepemimpinan: bahwa seorang pemimpin yang sejati tidak hanya berdiri di depan pasukannya saat memberi perintah, tetapi juga bersedia duduk di kursi donor ketika salah satu anggotanya membutuhkan pertolongan.

 

_HUMAS PMI SULTRA_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *