
“Dulu jalan kaki ke sekolah melewati kebun sagu, sekarang jalan ke podium sambil bawa daftar rundown family gathering. Panggil saja ia Bung Jolis, salah satu pentolan UTD PMI SULTRA”
KENDARI — Ada momen-momen dalam sejarah peradaban manusia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa. Jatuhnya Tembok Berlin. Pendaratan manusia di bulan. Dan kini, di tahun 2026, dunia menyaksikan satu lagi peristiwa bersejarah yang akan dikenang sepanjang masa: Bung Jolis, resmi ditunjuk sebagai Ketua Panitia Family Gathering PMI Sulawesi Tenggara 2026.
Sumber terpercaya di lingkungan PMI Sultra mengonfirmasi bahwa pria beralamat di Jl. Banteng, Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia, Kendari ini resmi ditunjuk sebagai Ketua Panitia Family Gathering PMI Sultra 2026. Kabar ini membuat heboh berbagai pihak, terutama dua putrinya yang masih kecil dan langsung bertanya, “Bapak, kita jadi ikut piknik gratis kan?”
“Saya sudah siapkan susunan acara, rundown, sampai playlist senam pagi. Yang belum siap cuma budget-nya”, ujar Jolis saat ditemui di dapur rumahnya sambil goreng pisang.
“Jolis itu tipe orang yang kalau dikasih tugas satu, hasilnya sepuluh. Kalau dikasih anggaran sedikit, hasilnya seperti punya sponsor besar. Kami tidak tahu ilmunya dari mana, mungkin dibawa dari Wesalo.”, ungkap Rekan senior PMI Sultra, yang minta namanya disamarkan karena “malu kalah dedikasi sama Jolis”
*
Siapakah sebenarnya pria bernama lengkap Jolis ini?
Ia lelaki yang lahir pada 25 Agustus 1990 di Desa Wesalo, Kecamatan Lalolae, Kolaka Timur, ia adalah bukti hidup bahwa pelosok negeri bisa melahirkan pemimpin-pemimpin hebat, asal mau berjuang, asal mau belajar, dan asal tidak males bangun pagi.
Masa kecilnya dihabiskan di Wesalo, sebuah desa yang, menurut Google Maps, butuh kesabaran ekstra untuk ditemukan, tapi menurut orang-orang yang lahir di sana, adalah tempat paling indah di dunia. Di sinilah Jolis kecil belajar membaca, berhitung, dan yang paling penting: belajar bahwa hidup tidak akan datang menghampirimu, kamu yang harus menjemputnya.
Perjalanan hidup Jolis memang bukan cerita biasa. Ia menghabiskan masa sekolah dengan penuh semangat, mulai dari SDN 1 Wesalo, lalu melanjutkan ke SMP 1 Tirawuta, kemudian SMA 1 Mowewe, yang ketiganya masih di Kolaka Timur. Bagi yang belum tahu geografinya: itu jauh. Sangat jauh. Tapi Jolis jalan terus.
Puncak intelektualnya terjadi ketika ia merantau ke Kendari dan duduk di bangku kuliah Yayasan Bina Husada Kendari pada 2009, lulus 2012. Di sinilah, diduga, benih-benih jiwa kepemimpinan mulai tumbuh, atau minimal, ia mulai terbiasa duduk di depan sambil pura-pura memperhatikan presentasi orang lain.
Kolega-koleganya di PMI Sultra menyebut Jolis sebagai sosok yang “pendiam tapi mematikan”, diam di rapat, tapi tiba-tiba muncul dengan proposal kegiatan yang lebih tebal dari buku nikahnya. Ada yang mengatakan ia punya kemampuan ajaib: mampu memancarkan aura ketampanannya hingga bisa menyihir yunior-yunior cantiknya di PMI SULTRA .”
*
Di dunia yang sering terlalu serius, terlalu bising, dan terlalu penuh berita buruk, sesekali kita perlu berhenti dan merayakan orang-orang seperti Jolis, orang yang tidak lahir dengan segala kemudahan, tapi memilih untuk berjalan terus meski jalannya tidak selalu mulus.
Dari SDN 1 Wesalo yang mungkin kelasnya tidak terlalu besar, melewati bukit-bukit Kolaka Timur menuju SMP 1 Tirawuta dan SMA 1 Mowewe, lalu merantau ke Kendari dengan modal nekat dan doa orang tua, Jolis menulis perjalanannya bukan dengan tinta, tapi dengan langkah kaki.
Family Gathering PMI Sultra 2026 dipastikan akan menjadi ajang paling bersejarah, setidaknya, bersejarah bagi Jolis, yang akhirnya punya alasan resmi untuk tidak mencuci piring di rumah selama masa persiapan acara berlangsung.
Selamat bertugas, Pak Ketua. Semoga acaranya sukses, anggarannya cukup, dan istri tetap sabar.









