Kendari – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, ada satu pertanyaan yang selalu muncul dengan penuh harapan, bisik-bisik, bahkan kadang disampaikan dengan wajah polos penuh kepolosan: “Pak… THR kapan cair?”

Pertanyaan yang satu ini seakan menjadi “lagu wajib” setiap tahun bagi para karyawan. Di kantor, di lorong, di depan ruang kerja, bahkan saat sedang menangani pasien, kadang amlodipine pun mendadak berubah menjadi segepok uang lima puluh ribuan. 

Seolah tak mau menjadi sasaran empuk tempat bertanya banyak orang, Kepala UPAK PMI Sulawesi Tenggara, Yopi Sukirman, S.Pi, akhirnya angkat bicara. 

“Kalau sudah mendekati Lebaran, selain Pak Roy (Kepala Manajemen RS PMI SULTRA), saya jadi orang yang paling sering ditanya di kantor. Bahkan kadang belum sempat duduk, sudah ada yang menyapa, ‘Pak, sekadar memastikan… THR kapan cair?’,” ujarnya sambil tertawa.

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini pencairan THR masih menunggu arahan dari pimpinan PMI Sulawesi Tenggara. Namun ia memahami betul bahwa rasa penasaran para karyawan bukan tanpa alasan.

“Namanya juga menjelang Lebaran. Banyak kebutuhan yang harus disiapkan. Dari beli baju baru, kue Lebaran, sampai yang paling berat… daftar permintaan dari keluarga di rumah,” katanya berseloroh.

Menurutnya, THR memang selalu menjadi momen yang paling dinanti oleh para karyawan. Bahkan, lanjutnya, ada fenomena unik yang selalu terjadi setiap tahun: tingkat keramahan di kantor mendadak meningkat drastis.

“Biasanya kalau sudah dekat THR, semua orang jadi sangat ramah. Senyumnya lebih lebar, sapaannya lebih hangat. Saya kadang curiga, ini ramah karena saya atau karena berharap ada kabar baik tentang THR,” katanya sambil tertawa.

Meski demikian, ia meminta seluruh karyawan untuk tetap bersabar sambil menunggu keputusan resmi dari pimpinan.

“Yang jelas kita semua berharap kabar baik segera datang. Tapi sementara ini kita tunggu dulu arahan pimpinan. Kita semua tahu, pimpinan kita merupakan orang-orang terbaik di Sulawesi Tenggara, yang selalu mengedepankan kesejahteraan bawahannya. Semoga saja kabarnya bukan hanya cepat, tapi juga membahagiakan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa semangat bekerja dan melayani masyarakat tetap harus menjadi prioritas utama, karena nilai kemanusiaan yang dijalankan PMI jauh lebih besar dari sekadar angka di rekening.

Namun di akhir wawancara, ia kembali melontarkan candaan yang membuat suasana semakin cair.

“Yang pasti satu hal yang saya tahu… begitu THR cair, biasanya kantor tiba-tiba jadi sangat sepi. Semua langsung sibuk ke pasar,” katanya disambut tawa.

Bagi para karyawan, satu hal yang pasti: pertanyaan “kapan THR cair?” akan terus hidup dari generasi ke generasi, menjadi tradisi tak tertulis yang selalu hadir menjelang Lebaran.

Dan sampai jawaban resminya keluar, para karyawan tampaknya akan tetap setia memegang prinsip sederhana:

“Tidak apa-apa menunggu… yang penting cair.” 😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *