Kendari – Di balik layanan kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Tenggara yang terus bergerak melayani masyarakat, ada sosok perempuan tangguh yang selama satu dekade mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan. Ia adalah Veny Silvana Rahman.

Veny berkarir di Unit Donor Darah PMI SULTRA sejak tahun 2016. Berbagai jenjang karir di UDD PMI Sultra telah ia lakoni. Mulai dari menjadi Bendahara hingga Kepala Bagian Administrasi Unit Donor Darah PMI SULTRA, jabatan yang saat ini ia pegang.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dalam rentang waktu tersebut, Veny telah melewati berbagai dinamika pelayanan, mulai dari pengelolaan administrasi kemanusiaan, dukungan operasional kegiatan donor darah, keterlibatan dalam respons kebencanaan, kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga pasang surut pergantian pemimpin. Setiap tugas dijalaninya dengan konsistensi, kedisiplinan, serta komitmen tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan PMI.

Sepuluh tahun bukan sekadar angka. Itu adalah rentang waktu yang kadang dipenuhi lembur, tekanan kerja yang berulang, keterbatasan fasilitas, serta tuntutan pelayanan yang terus meningkat. Di saat banyak orang menikmati stabilitas karier, Veny justru bergulat dengan dinamika kerja kemanusiaan yang penuh ketidakpastian. Ia hadir di balik layar, memastikan roda pelayanan tetap berputar, meski tubuh dan emosinya kerap diuji.

Dalam berbagai situasi darurat, Veny dikenal sebagai pribadi yang sigap, tenang, dan mampu bekerja di bawah tekanan. Ketika banyak orang memilih menjauh dari risiko, ia justru berdiri di garis depan, memastikan pelayanan tetap berjalan optimal. Ketangguhan mental dan kepekaan sosial menjadi kekuatan utamanya dalam menjaga kualitas layanan PMI Sultra.

Rekan kerja menilai Veny sebagai sosok yang disiplin, komunikatif, dan memiliki loyalitas tinggi terhadap lembaga. Ia tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi penghubung antar tim, relawan, dan masyarakat. Kehadirannya memberi energi positif dalam lingkungan kerja, sekaligus menjadi teladan bagi generasi muda yang ingin terjun di dunia kemanusiaan.

Lebih dari sekadar karier, perjalanan Veny di PMI Sultra mencerminkan peran strategis perempuan dalam sektor kemanusiaan. Jejak dedikasi Veny Silvana Rahman bukan hanya catatan perjalanan pribadi, tetapi juga inspirasi bahwa pengabdian yang konsisten mampu memberi dampak besar bagi kemanusiaan. Dalam diam, dalam kerja yang sering luput dari sorotan, ia membuktikan bahwa ketangguhan sejati lahir dari ketulusan melayani.

“Kadang lelah bukan hanya fisik, tapi juga batin. Namun masyarakat tidak bisa menunggu,” ungkapnya lirih dalam sebuah kesempatan. Kalimat sederhana itu mencerminkan realitas pahit pekerja kemanusiaan: tuntutan selalu mendesak, sementara dukungan struktural pemerintah sering kali tertinggal.

Di balik rompi kemanusiaan yang dikenakannya, Veny adalah manusia biasa yang lelah, cemas, dan terkadang rapuh. Tetapi sistem sering menuntutnya tetap kuat. Inilah wajah sunyi sektor kemanusiaan: tuntutan moral yang tinggi tidak selalu sejalan dengan perhatian terhadap kesejahteraan para pelakunya.

Lebih jauh, perjalanan Veny juga membuka realitas tentang posisi perempuan dalam kerja-kerja kemanusiaan. Di tengah beban ganda sosial dan profesional, perempuan dituntut tetap tangguh, adaptif, dan tidak boleh rapuh. Ketangguhan sering dipuji, tetapi kelelahan jarang dipedulikan.

Satu dekade pengabdian ini seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai kisah inspiratif, tetapi juga menjadi alarm kritis bagi semua pihak: sejauh mana negara, lembaga, dan masyarakat benar-benar melindungi mereka yang berdiri di garis kemanusiaan? Apakah dedikasi selalu harus dibayar dengan pengorbanan yang tidak terlihat?

Jejak Veny Silvana Rahman bukan sekadar cerita tentang loyalitas, tetapi juga potret sunyi tentang harga sebuah pengabdian. Dalam kerja yang senyap dan sering luput dari perhatian publik, ia terus bertahan, bukan karena sistem selalu adil, tetapi karena nurani masih memanggilnya untuk melayani.

Di tengah realitas yang keras itu, Veny mengakui bahwa kekuatan terbesarnya adalah kepemimpinan di PMI Sultra yang memberi ruang perlindungan, keteladanan, dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan. Ia menilai di bawah kepemimpinan Abdurrahman Saleh dan Sahrun Gaus, PMI Sultra, bukan sekedar organisasi administratif, tetapi hadir sebagai lembaga yang memahami beban psikologis dan moral para pekerja kemanusiaan.

“Pemimpin kami tidak hanya memberi perintah, tetapi memberi teladan, keberanian, dan kepedulian. Dalam situasi sulit, terutama Kepala Markas, beliau selalu mengingatkan bahwa keselamatan relawan dan martabat pelayanan adalah prioritas,” ungkap Veny.

Kepemimpinan tersebut dinilai mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan pelayanan publik dan perlindungan terhadap sumber daya manusia. Di saat banyak lembaga terjebak pada target dan angka, PMI Sultra justru berupaya menumbuhkan budaya empati, solidaritas internal, serta penghargaan terhadap kerja sunyi para pelayan kemanusiaan.

Perempuan alumni Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin ini menilai, pimpinan PMI Sultra telah menciptakan iklim kerja yang lebih manusiawi, terbuka terhadap dialog, dan responsif terhadap kebutuhan lapangan. Ketegasan dalam pengambilan keputusan berpadu dengan kepekaan sosial menjadi kekuatan utama kepemimpinan yang menjaga semangat pengabdian tetap hidup.

Lebih jauh, perjalanan Veny juga menjadi refleksi tentang pentingnya pemimpin yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga matang secara moral. Di sektor kemanusiaan, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga nilai, melindungi manusia, dan memastikan pengabdian tidak berubah menjadi eksploitasi.

Satu dekade pengabdian Veny bukan hanya kisah tentang ketangguhan pribadi, tetapi juga bukti bahwa kepemimpinan yang berintegritas mampu menumbuhkan loyalitas, ketahanan mental, dan keberlanjutan pelayanan. Dalam sunyi kerja kemanusiaan, pemimpin yang berpihak pada nilai dan manusia adalah cahaya yang menjaga harapan tetap menyala.

Jejak dedikasi ini menjadi pengingat: pengabdian tidak lahir dari sistem yang dingin, tetapi dari kepemimpinan yang menghidupkan nurani.

_HUMAS PMI SULTRA_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *