Kendari — Tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan kemanusiaan Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sulawesi Tenggara. Direktur UDD PMI Sultra menegaskan bahwa capaian sepanjang tahun ini merupakan salah satu yang terbaik sepanjang sejarah pelayanan donor darah di Sultra, namun di balik angka dan prestasi, masih tersimpan tantangan besar yang menuntut kerja lebih keras dan kesadaran kolektif masyarakat.

“Kami menyebut 2025 sebagai pencapaian terbaik, bukan karena kami merasa sempurna, tetapi karena kami berhasil melampaui keterbatasan yang selama ini menjadi hambatan pelayanan darah di daerah,” ujar Direktur UDD PMI Sultra, dr Erik Syam M.Biomed dalam keterangannya kepada media ini.

Ia menjelaskan, selama bertahun-tahun PMI Sultra menghadapi realitas klasik: kebutuhan darah yang terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pasien, sementara kesadaran donor darah sukarela belum sepenuhnya merata. Di banyak wilayah, darah masih menjadi komoditas darurat, dicari ketika krisis datang, bukan dipersiapkan secara berkelanjutan.

Namun pada 2025, kondisi tersebut mulai berubah. Jumlah pendonor sukarela mengalami peningkatan signifikan, distribusi darah menjadi lebih cepat dan merata, serta sistem pelayanan mengalami perbaikan dari sisi mutu, keamanan, dan transparansi. Inovasi layanan, digitalisasi pendataan, serta pendekatan edukatif ke komunitas menjadi fondasi penting dari capaian ini.

“Setiap kantong darah bukan sekadar angka statistik. Ia adalah harapan hidup bagi ibu melahirkan, pasien kanker, korban kecelakaan, hingga anak-anak dengan kelainan darah. Kami bekerja bukan untuk target institusi, tetapi untuk nyawa manusia,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bagian Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S), Syahruni SKM, secara jujur mengakui bahwa tantangan ke depan tidak semakin ringan. Ketergantungan pada donor pengganti masih terjadi di beberapa daerah, ketimpangan akses layanan darah antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah, serta stigma dan ketakutan masyarakat terhadap donor darah belum sepenuhnya hilang.

“Kemanusiaan tidak boleh bergantung pada momentum. Donor darah harus menjadi budaya, bukan kegiatan insidental. Jika kesadaran ini tidak tumbuh, maka capaian 2025 bisa saja bersifat sementara,” ujarnya dengan nada reflektif.

Syahruni menekankan bahwa keberhasilan UDD PMI Sultra sepanjang 2025 tidak mungkin tercapai tanpa sinergi berbagai pihak, relawan donor darah, tenaga kesehatan, rumah sakit, pemerintah daerah, TNI–Polri, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga media yang terus menyuarakan pesan kemanusiaan.

UDD PMI Sultra mencatat pada tahun 2025 target kebutuhan darah telah tercapai sejumlah 1.400 kantong darah per bulan. di 2025, Unit Transfusi Darah PMI Sultra juga tercatat aktif menggelar kegiatan donor darah sebanyak 163 kali. Bahkan di bulan November hingga Desember UTD  PMI Sultra seringkali mengadakan kegiatan donor darah serentak di tiga lokasi berbeda.

“Pada kesempatan ini, izinkan kami menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada para relawan dan instansi-instansi terkait yang selama ini telah aktif bekerjasama, diantaranya :

  1. POLDA SULTRA
  2. POLAIRUT POLDA SULTRA
  3. BRIMOB POLDA SULTRA
  4. KOREM 143/HO TNI AL
  5. TNI AU
  6. BANK INDONESIA
  7. IMIP MOROWALI
  8. IBM
  9. ANTAM POMALAA
  10. AKP
  11. STARGATE TESOUCES
  12. KALAM HIDUP
  13. KOMUNITAS DOMPET DHUAFA
  14. POLTEKES KEMENKES
  15. KANTOR PPS KENDARI
  16. KANTOR GUBERNUR PROV. SULTRA
  17. KANTOR WALIKOTA KENDARI
  18. KANTOR IMIGRASI
  19. KANTOR DIRJEN PEMASYARAKATAN
  20. UNIVERSITAS MANDALA WALUYA
  21. POLITEKNIK BINA HUSADA
  22. SENTRA MEOHAI
  23. PERTAMINA PATRANIAGA
  24. HISWANA GAS
  25. SMA NEGERI 4 KENDARI
  26. SMA NEGERI 1 KENDARI
  27. ALUMNI PASKIBRAKA SULTRA
  28. ALUMNI IPDN
  29. NPM KONUT
  30. DINKES KOTA KENDARI
  31. RSUD ANTERO HAMRA
  32. JEMAAH HAMADIYAH

Dan pihak-pihak terkait yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah membantu pencapaian maksimal UTD PMI SULTRA hingga berhasil mengumpulkan kantong darah sekitar 14.765 kantong darah. Darah tidak bisa dibuat di pabrik, tetapi hanya bisa diberikan oleh manusia kepada manusia lainnya. Di situlah nilai kemanusiaan kita diuji,” Tutup Syahruni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *