
Kendari — Jika biasanya Kepala UPAK dikenal karena ketegasan dan disiplin kerja, profil yang satu ini, berbeda. Di kantor serius, di panggung bisa berdendang. Di mimbar bikin haru, pegang mic langsung bikin biduan lokal pensiun dini.
Dialah Yopi Sukirman, S.Pi, Kepala UPAK (Unit Pemeliharaan Alat Kesehatan) PMI Sultra, manusia paket lengkap: ceramahnya bikin hati bergetar, dangdutnya bikin lantai bergetar.
Ia lahir di Kendari, 9 Agustus 1987. Statusnya telah menikah dan merupakan Ayah dari 3 orang anak. Sosok unik ini adalah alumni SDN 08 Wua-Wua, Ia sempat menyelesaikan sekolah menengahnya di SMPN 1 Cisaat Sukabumi, dan melanjutkan study di SMAN 4 Kendari. Saat Mahasiswa, ia tercatat aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan di jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo.
Karirnya di PMI SULTRA dimulai dari bawah, berawal dari penjaga loket Unit Donor Darah sejak tanggal 5 Februari 2018. Karena keuletan dan kejujurannya, tak lama ia diangkat sebagai Kasubag Logistik, kemudian lanjut menjadi Kabag Keuangan dan hingga kini dipercaya oleh Pimpinan untuk menjabat sebagai Kepala UPAK PMI SULTRA, salah satu jabatan krusial yang memegang kendali atas keluar masuknya barang dan tata kelola keuangan di PMI SULTRA.
Di pagi hari beliau mengingatkan tentang keikhlasan hidup.
Di malam hari beliau mengingatkan pentingnya berdendang dengan benar dan penuh penghayatan. Unik bukan?
Rekan kerja mengaku kadang bingung. Awalnya kumpul untuk briefing kerja, lima menit kemudian berubah jadi tausiyah.
Setelah itu, entah bagaimana, tiba-tiba ada sesi karaoke massal.
Fenomena ini bahkan disebut rekan-rekannya sebagai:
“Pelayanan 3 in 1: kerja dapat, pahala dapat, hiburan juga dapat.”
Prestasi Juara 1 lomba dangdut yang diraih bukan tanpa perjuangan. Ia adalah pemegang piala Emas Penyanyi Dangdut Terbaik di hari Ulang tahun PMI SULTRA tahun ini. Konon, suaranya mampu menembus tiga lapisan hati manusia: lapisan galau, lapisan baper, dan lapisan mantan yang belum move on.
Sementara kemampuan dakwahnya tak kalah dahsyat. Ceramahnya dikenal singkat, padat, dan langsung menusuk relung jiwa. Bahkan ada yang mengaku:
“Awalnya cuma mau dengar sebentar, pulangnya langsung introspeksi hidup dan ingin jadi pribadi lebih baik… sambil nyanyi dangdut di jalan.”
Di lingkungan kerja PMI Sultra, kehadirannya menjadi sumber energi tak terbatas. Saat pegawai lelah, ia bisa memberi motivasi. Saat suasana tegang, ia bisa mencairkan keadaan. Saat listrik mati pun, katanya ia masih bisa “menyala” dengan suara emasnya. Dan saat para karyawan butuh pinjaman, ia dengan gesit membantu mencairkannya di Bank. Eh..
Rekan-rekan kerja juga menyebut beliau sebagai: Pemimpin kalau di kantor, Ustadz kalau pakai peci, Biduan kalau pegang mic.
Banyak yang percaya, jika pelayanan kemanusiaan membutuhkan suara hati, maka ia sudah menyediakan speaker sekaligus sound system-nya.
Meski penuh canda, sosok ini menjadi bukti bahwa pengabdian tak harus selalu kaku. Kadang kemanusiaan juga butuh tawa, butuh hiburan, dan butuh suara merdu agar semangat melayani tetap hidup.
Dari kisah Yopi Sukirman kita bisa mengambil sebuah hikmah bahwa, di PMI Sultra, bukan hanya stok darah yang bisa mengalir, tapi juga nada tinggi.
____HUMAS___

