Pak Bela sedang melaksanakan kegiatannya di pagi hari sebelum apel pagi berlangsung.

Kendari — Ada orang-orang yang menghabiskan hidupnya bekerja tanpa pernah bertanya kapan akan dihargai. Tidak mengeluh, tidak menuntut. Pak Bela mungkin adalah salah satunya.

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian panjangnya, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sulawesi Tenggara menghadiahkan perjalanan ibadah umrah kepada Pak Bela. Sebuah hadiah yang bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi simbol penghormatan atas kerja kemanusiaan yang telah lama ia rawat tanpa pamrih.

Selama bertahun-tahun, Pak Bela dikenal sebagai pribadi yang selalu hadir ketika dibutuhkan. Dalam kegiatan kemanusiaan PMI, ia bukan hanya menjalankan tugas, tetapi juga menanamkan nilai: melayani tanpa banyak bicara, bekerja tanpa menuntut balasan.

Sekretaris PMI Sultra, H. Sahrun Gaus SP.,MM menyampaikan bahwa hadiah umrah ini bukan tentang kemewahan, melainkan tentang pengakuan atas keikhlasan.

“Kami ingin memberi sesuatu yang bermakna. Pak Bela telah memberi begitu banyak untuk kemanusiaan, dan kali ini kami ingin membalasnya dengan doa,” ujarnya.

Bagi Pak Bela sendiri, kabar ini datang dengan haru. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih.

“Saya tidak pernah membayangkan akan mendapat hadiah seperti ini. Semua yang saya lakukan semata-mata karena ingin membantu,” tuturnya singkat.

Pak Bela bernama asli Sabillah Karabela. Ia lahir di Kendari, 18 Februari 1979 dari pasangan La Ode Ampo dan Siti Nur Marifa. Pak bela mengabdikan diri di Unit Donor Darah PMI SULTRA sejak tahun 2000, artinya ia telah 26 tahun menjadi bagian dari cerita suka duka PMI Sulawesi Tenggara.

Bertahun-tahun ia hadir dalam kerja-kerja kemanusiaan PMI Sulawesi Tenggara. Datang lebih awal, pulang paling akhir. Bekerja ketika orang lain memilih beristirahat. 

PMI Provinsi Sulawesi Tenggara akhirnya memutuskan memberi sesuatu yang tak bisa dibayar dengan angka: hadiah ibadah umrah. Bukan sebagai hadiah mewah, melainkan sebagai pengakuan atas pengabdian panjang yang nyaris luput dari perhatian.

PMI Sultra berharap, langkah kecil ini menjadi pesan bahwa kerja kemanusiaan, sekecil dan sesunyi apa pun, layak dihormati. Bukan karena besar jasanya, tetapi karena ia tetap memilih bertahan ketika menyerah adalah pilihan paling mudah. Di tengah dunia yang sering menghitung jasa dengan angka, PMI Sultra memilih menghitungnya dengan doa.

Dan Pak Bela, akhirnya, melangkah ke Tanah Suci, membawa bukan hanya koper, tetapi juga jejak pengabdian yang panjang dan tulus.

Pak Bela dijadwalkan akan bertolak ke Tanah Suci pada bulan Maret 2026 setelah Idul Fitri. Ia akhirnya membawa doa-doa yang selama ini ia simpan sendiri. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, pengabdiannya benar-benar pulang.

Selamat Pak Bela…

 

__HUMAS PMI SULTRA__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *