
Aceh Utara — Di tengah sunyi yang tersisa setelah bencana, masih ada mereka yang memilih bertahan. Salah satunya adalah Mukhlas, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sulawesi Tenggara (SULTRA), yang menjejakkan kaki di Langkaan, Aceh Utara. Bersama rekannya Roy Riswon, ia berangkat dari Kendari bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga harapan.
Mukhlas datang tanpa banyak kata. Ransel sederhana di punggungnya menyimpan perlengkapan relawan, namun yang paling berat justru adalah tanggung jawab kemanusiaan yang ia pikul.
Langkaan tidak kekurangan cerita sedih. Ia kekurangan telinga yang mau mendengar dan tangan yang mau bertahan lebih lama. Banyak rumah rusak, sumber air bersih terbatas, dan warga harus kembali menjalani hidup dengan sisa-sisa ketidakpastian. Anak-anak bermain di tanah yang belum pulih, sementara para orang tua memendam cemas yang tak selalu bisa diucapkan.
Mukhlas menyaksikan itu semua dari jarak dekat. Ia membantu distribusi air bersih, mendampingi warga rentan, dan mengangkat jeriken air bersama masyarakat yang sudah terlalu lama menunggu bantuan berkelanjutan. “Yang paling berat bukan lelah fisik,” katanya pelan, “tetapi melihat warga mulai terbiasa dengan kekurangan, seolah itu nasib yang harus diterima.”
Sebagai relawan PMI SULTRA, Mukhlas datang membawa lebih dari sekadar logistik. Ia membawa kehadiran, sesuatu yang sering dianggap sepele, namun justru paling langka di fase pemulihan. Di Langkaan, bantuan tidak selalu terlambat, tetapi sering tidak cukup lama. Program datang dan pergi, sementara warga tetap tinggal dengan luka yang sama.
Kisah Mukhlas menjadi cermin kritik bagi kita semua. Bahwa respons bencana sering kali berhenti pada angka dan laporan, bukan pada keberlanjutan hidup manusia. Bahwa solidaritas lintas daerah, seperti yang ditunjukkan PMI SULTRA, justru sering menutup celah yang seharusnya tidak dibiarkan terbuka oleh sistem.
Di pagi hari, Mukhlas membagikan Mesin Air siap minum yang di bawa dari Kendari, ada pula Quran, Mukena dll. Sedang di malam hari, ketika tenda-tenda pengungsian mulai sunyi dan suara generator berhenti, Mukhlas masih duduk bersama warga. Mendengar cerita kehilangan ladang, pekerjaan, dan masa depan yang terasa kabur. Tidak ada kamera. Tidak ada tepuk tangan. Hanya manusia dengan manusia lain, mencoba saling menguatkan.
Langkaan mengajarkan satu hal pahit: bencana bukan hanya soal alam, tetapi juga tentang ketahanan kebijakan dan konsistensi kepedulian. Kehadiran Mukhlas di sana adalah pengingat bahwa kemanusiaan sejati sering bekerja dalam diam—dan justru karena itu, ia paling rentan dilupakan.
PMI SULTRA menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat terdampak, meski perhatian publik mungkin saja telah berpaling. Karena bagi warga Langkaan, pulih bukan soal cepat, tetapi soal tidak ditinggalkan.
Di Langkaan, Mukhlas meninggalkan lebih dari sekadar jejak langkah. Ia meninggalkan pesan bahwa kemanusiaan tidak mengenal jarak, bahwa Sulawesi Tenggara dan Aceh terhubung oleh kepedulian yang sama. Dan ketika ia kelak kembali, kisahnya akan menjadi pengingat bahwa di balik setiap bencana, selalu ada manusia yang memilih untuk hadir—dengan hati.
_HUMAS PMI SULTRA_









